Kamis, 10 Mei 2012

Cinta Bla..Bla..Bla

Cak Nun "Kita ini hanya diperjalankan, mungkin jalan itu terlalu rumit. Namun pada saatnya kita akan menemui ujung jalan sebenarnya."

Perjalanan ku sekarang mungkin sedang dalam ujian terberat atau mungkin sebenarnya mudah, tapi saya yang terlalu lebay, galau, atau apalah semacam itu.
Tamu-tamu berdatangan bergiliran, sampai-sampai saya kerepotan menyambutnya. Atau mungkin saya malah lupa menyambutnya, bahkan saya lupa siapa saja yang datang. Seingat saya namanya ada yang CINTA, KULIAH, DOSEN, TEMAN, ROKOK, TUGAS... dan bla...bla...bla...
Haha,, saya meremehkan mereka, padahal tamu itu harus di sambut dengan baik. Alhasil, saya cuma mengenal namanya, saya lupa wajahnya, saya lupa apa yang tamu-tamu itu berikan pada saya, sehingga saya sekarang belum memahami cinta sebenarnya, saya bahkan takut dengan cinta, saya lupa hakikat kuliah yang katanya menuntut ilmu, saya tidak tahu menghargai dosen, saya tidak bisa berteman dengan baik, saya tidak tahu hakikat mengapa saya merokok, dan saya sering lupa mengerjakan tugas..haha. ironi...

Entah apa yang membuat saya terlena, saya takut memperjuangkan cinta (dari dulu saya memang pecundang kalau soal cinta, hingga saat ini pun saya gak tahu apa beneran cinta sama pacar saya, tolol!), saya meremehkan kuliah mungkin karena saya angkuh jika dalam perkuliahan itu sama saja, saya lebih suka belajar dengan alam dan sosial secara langsung (tidak di bangku kuliah yang menurut saya munafik), saya lupa menghargai teman-teman yang selalu ada di dekat saya (termasuk Rokok, kenapa rokok disalahkan?) padahal di selalu menemani saya.wkwkwkkw... dan bla....bla...bla...

Sementara ini yang dapat saya lakukan adalah menghayati semua ini, mencoba dan berharap TAMU-TAMU tadi sudi berkunjung ke rumah khasanah ku dan saya tentu akan mencatat nama, menghafal wajah-wajahnya, memahami maksud dan tujuan mereka yang tentunya baik. Saya akan menyambutnya dengan baik. Semoga dalam perjalanan yang tersisa ini saya ditunjukkan oleh-NYA apa yang benar-benar harus ditunjukkan.

Masih ada waktu untuk memahami arah mata angin, masih banyak kemungkinan-kemungkinan di depan yang mungkin akan tak terduga dan bla...bla...bla....

Saya berharap mendapatkan cinta yang benar-benar cinta, kuliah yang benar-benar ilmu, rokok yang benar-benar nikmat dan menyehatkan dan bla...bla...bla..

Yang jelas akan saya lewati jalan sunyi yang mungkin sekarang ini sedang saya lalui...

SALAMUN ALA NUHIN FIL ALAMIIN
KUN FAYAA KUUN
NURRUN 'ALA NUR

Selasa, 19 April 2011

Surat Kepada Kanjeng Nabi

Ah, Muhammad, Muhammad. Betapa kami mencintaimu. Betapa hidupmu bertaburan emas permata kemuliaan, sehingga luapan cinta kami tak bisa dibendung oleh apa pun. Dan jika seandainya cinta kami ini sungguh-sungguh, betapa tak bisa dibandingkan, karena hanya satu tingkat belaka di bawah mesranya cinta kita bersama kepada Allah.
Akan tetapi tampaknya cinta kami tidaklah sebesar itu kepadamu. Cinta kami tidaklah seindah yang bisa kami ungkapkan dengan kata, kalimat, rebana, dan kasidah-kasidah.Dalam sehari-hari kehidupan kami, kami lebih tertarik kepada hal-hal yang lain.
Kami tentu akan datang ke acara peringatan kelahiranmu di kampung kami masing-masing, namun pada saat itu nanti wajah kami tidaklah seceria seperti tatkala kami datang ke toko-toko serba ada, ke bioskop, ke pasar malam, ke tempat-tempat rekreasi.
Kami mengirim shalawat kepadamu seperti yang dianjurkan oleh Allah karena Ia sendiri beserta para malaikat-Nya juga memberikan shalawat kepadamu. Namun pada umumnya itu hanya karena kami membutuhkan keselamatan diri kami sendiri.
Seperti juga kalau kami bersembahyang sujud kepada Allah, kebanyakan dari kami melakukannya karena kewajiban, tidak karena kebutuhan kerinduan, atau cinta yang meluap-luap. Kalau kami berdoa, doa kami berfokus pada kepentingan pribadi kami masing-masing.
Sesungguhnya kami belum mencapai mutu kepribadian yang mencukupi untuk disebut sebagai sahabatmu, Muhammad. Kami mencintaimu, namun kami belum benar-benar mengikutimu. Kami masih takut dan terus menerus tergantung pada kekuasaan-kekuasaan kecil di sekitar kami. Kami kecut pada atasan. Kami menunduk pada benda-benda. Kami bersujud kepada uang, dan begitu banyak hal-hal yang picisan.
Setiap tahun kami memperingati hari kelahiranmu. Telah beribu-ribu kali umatmu melakukan peringatan itu, dan masing-masing kami rata-rata memperingati kelahiranmu tiga puluh kali. Tetapi lihatlah : kami jalan di tempat. Tidak cukup ada peningkatan penghayatan. Tidak terlihat output personal maupun sosial dari proses permenungan tentang kekonsistenan. Acara peningkatan maulidmu pada kami mengalami involusi, bahkan mungkin degradasi dan distorsi. Negarawan Agung
Zaman telah mengubah kami, kami telah mengubah zaman, namun kualitas percintaan kami kepadamu tidak kunjung meningkat. Kami telah lalui berbagai era, perkembangan dan kemajuan. Ilmu, pengetahuan, dan teknologi kami semakin dahsyat, namun tak diikuti dahsyatnya perwujudan cinta kami kepadamu.
Kami semakin pandai, namun kami tidak semakin bersujud. Kami semakin pintar, namun kami tidak semakin berislam. Kami semakin maju, namun kami tidak semakin beriman. Kami semakin beriman, namun kami tidak semakin berihsan. Sel-sel memuai. Dedaunan memuai. Pohon-pohon memuai. Namun kesadaran kami tidak. Cinta dan internalisasi ketuhanan kami tidak.
Kami masih primitif dalam hal akhlak—substansi utama ajaranmu. Padahal kami tak usah belajar soal akhlak karena tidak menjadi naluri manusia; berbeda dengan saudara kami kaum Jin yang ilmu tak usah belajar namun akhlak harus belajar. Akhlak kaum jin banyak yang lebih bagus dari kami.
Sebab kami masih bisa menjual iman dengan harga beberapa ribu rupiah. Kami bisa menggadaikan Islam seharga emblem nama dan segumpal kekuasaan. Kami bisa memperdagangkan nilai Tuhan seharga jabatan kecil yang masa berlakunya sangat sementara. Kami bisa memukul saudara kami sendiri, bisa menipu, meliciki, mencurangi, menindas, dan mengisap, hanya untuk beberapa lembar uang.
Padahal kami mengaku sebagai pengikutmu, Ya Muhammad. Padahal engkau adalah pekerja amat keras dibanding kepemalasan kami. Padahal engkau adalah negarawan agung dibanding ketikusan politik kami. Padahal engkau adalah ilmuwan ulung dibanding kepandaian semu kami. Padahal engkau adalah seniman anggun dibanding vulgar-nya kebudayaan kami.
Padahal engkau adalah pendekar mumpuni dibanding kepengecutan kami. Padahal engkau adalah strateg dahsyat dibanding berulang-ulangnya keterjebakan kami oleh sistem Abu Jahal kontemporer.
Padahal engkau adalah mujahid yang tak mengenal putus asa dibanding deretan kekalahan-kekalahan kami. Padahal engkau adalah pejuang yang sedemikian gagah perkasa terhadap godaan benda emas dibanding kekaguman tolol kami terhadap hal yang sama.
Padahal engkau adalah moralis kelas utama dibanding kemunafikan kami. Padahal engkau adalah panglima kehidupan yang tak terbandingkan dibanding keprajuritan dan keseradaduan kepribadian kami. Padahal engkau adalah pembebas kemanusiaan.
Padahal engkau adalah pembimbing kemuliaan. Padahal engkau adalah penyelamat kemanusiaan. Padahal engkau adalah organisator dan manajer yang penuh keunggulan dibanding ketidaktertataan keumatan kami.
Padahal engkau adalah manusia yang sukses menjadi nabi dan nabi yang sukses menjadi manusia, di hadapan kami. Padahal engkau adalah liberator budak-budak, sementara kami adalah budak-budak yang tak pernah merasa ,menyadari, dan tak pernah mengakui, bahwa kami adalah budak-budak.
Sementara kami adalah budak-budak—dalam sangat banyak konteks yang sudah berbincang tentang perbudakan, segera mencari kalimat-kalimat, retorika, dan nada yang sedemikian indahnya sehingga bisa membuat kami tidak lagi menyimpulkan bahwa kami adalah budak-budak.
Di negara kami ini, umatmu berjumlah terbanyak dari penduduknya. Di negeri ini, kami punya Muhammadiyah, punya NU, Persis, punya ulama-ulama dan MUI, ICMI, punya bank, punya HMI, PMII, IMM, Ashor, Pemuda Muhammadiyah, IPM, PII, pesantren-pesantren, sekolah-sekolah, kelompok-kelompok studi Islam intensif, yaysan-yayasan, mubalig-mubalig, budayawan, dan seniman, cendekiawan, dan apa saja.
Yang kami tak punya hanyalah kesediaan, keberanian, dan kerelaan yang sungguh-sungguh untuk mengikuti jejakmu.

Sumber : Kenduricinta.com

Selasa, 04 Januari 2011

Ravee..


Sebuah band peendatang baru yang siap masuk dalam industri musik Indonesia. Amin
Mengusung misi bermusik yang cerdas dan santun bertema pop progressive. sudah memiliki karya seperti Isi Hati, Kisah Masa Lalu, Dan Akhirnya, dll. Tapi belum rekaman karena terganjal masalah ekonomi manajemen.hehe

Band yang di motori Bryan(Lead Guitar), Nindy(Rythm Guitar), Megan(Bass Guitar), Amin(Drum), dan Rudy(Vokal) akan terus berkarya karena visi awal kami adalah seni untuk kesenangan, bukan kemenangan..